Pura Gunung Baleku, Lombok Barat

 Pura Gunung Baleku

Pura Gunung Baleku berada di daerah Desa Gunung Sari Lombok barat merupakan salah satu Pura Besar yang ada di lombok. Sejarah dari Pura ini berkaitan dengan kisah perjalanan Danghyang Nirartha ke lombok. Danghyang Nirartha adalah seorang Brahmana Buddha yang berasal dari Kerajaan Daha di pulau Jawa, setelah beliau berada di Bali tepatnya setelah mengabdi di Kerajaan Gelgel beliau mulai menjalankan ajaran Siwa, yang kemudian beliau disebut dengan nama Bhatara Sakti Wawu Rawuh atau lebih terkenal dengan  sebutan Dang Hyang Dwijendra, kata Dwijendra berarti beliau yang melaksanakan dua ajaran yakni ajaran Siwa dan Buddha.

Kata Baleku berarti “rumah saya”. Pura melanting ini didirikan untuk mengenang putri  perempuan Dang Hyang Dwijendra yang bernama Dewi Ayu Mas. Gunung Baleku adalah tempat pertama kali Dang Hyang Dwijendra menginjakkan kaki ditanah Lombok kurang lebih pada abad ke-13, di pulau Lombok Dang Hyang Dwijendra dijuluki dengan sebutan Sangupati, kata Sangupati berasal dari urat kata Sang Utpeti yang berarti “yang menciptakan Panca Tirtha” yang di Suranadi.  Luas area pura Gunung Baleku sebenarnya hanya kurang lebih 12 are, dan  mendapatkan punia berupa perluasan area  kurang lebih 16 are.

Berdirinya  Pura Gunung Baleku


Sesampainya Dang Hyang Dwijendra di pulau Lombok, beliau diberi julukan  Pangeran Sangupati, beliau pertama kali menciptakan Panca Tirtha, yang berada di Suranadi, setelah selesai menciptakan Panca Tirtha yang ada di suranadi, kemudian beliau melanjutkan menyusuri Lombok  menuju kearah utara hingga ke Gunung Rinjani, setelah itu beliau menuruni puncak Rinjani melalui  pinggir pantai, dan sampai di Lombok utara, beliau singgah di Desa Tembango. Sejarah Baleku berkaitan erat dengan Pura Batu Bais atau sering disebut Pura Batu Bagik oleh suku asli Lombok. Di pura Batu Bais ini terdapat bekas telapak kaki Danghyang Nirartha (Dang Hyang Dwijendra) pada kedalaman 1 cm.


Umat di Desa Tembago memohon kepada Dang Hyang Dwijendra agar mengajarkan agama Buddha disana, bekas telapak kaki beliau yang terdapat di pura Batu Bais inilah yang disungsung oleh agama budha Terayana  di desa Tembango, itulah sebabnya batu bekas telapak kaki beliau dinamai Batu Bagik Bais yang artinya telapak kaki beliau. Setelah beliau selesai memberikan ajaran, beliau melanjutkan perjalan menuju ke timur dan sampailah beliau di Gunung Baleku tempat Pura Baleku berdiri kokoh hingga saat ini. Gunung ini dulu bernama Balekuwu, Bale yang artinya “rumah” dan Kuwu yang juga berarti “rumah” jadi Baleku berarti “rumah-rumah atau pondok-pondok”. Ditempat inilah putri Dang Hyang Dwijendra bernama Dewi Ayu Mas dijunjung dan dipuja.
Pelinggih-pelinggih yang berdiri kokoh di area Pura Gunung Baleku yakni:
  • Padmasana yang berada di bagian timur yang dilengkapi dengan ukiran Bedawang Nala sebagai simbol bumi;
  • Pelinggih melanting yang berada di bagian utara yang dibalut dengan kain kuning, bangunan ini menyimbolkan dewi kesuburan, pelinggih ini sering disembah oleh para pedagang.
  • Pelinggih Gedong Sari  berada di bagian timur, yang dilengkapi dengan bebatuan yang diselimuti kain putih yang  konon adalah tempat duduk Dang Hyang Dwijendra atau Bhatara Sakti.
  • Pelinggih Anglurah berada di bagian selatan, sebagai simbol wakil Ida Sang Hyang Widhi.
  • Bale pewedean berada di bagian barat.
  • Bale pesanekan berada madya mandala yaitu di bagian selatan.
  • Batu Peluk atau Batu Kapung berada di tengah areal utama mandala, yang merupakan salah satu peninggalan Bhatara Sakti, sedangkan 3 batu lain yang berada diantara Batu Kapung ini hanya berfungsi sebagai pelengkap saja.
Setelah dari pura Gunung Baleku,  Bhatara Sakti Wawu Rawuh melanjutkan perjalanan beliau menuju keselatan sampai ke Labuan Lombok Khayangan (Lombok timur) beliau membuat pura di sana, setelah itu beliau pulang kembali ke tanah Bali, selama kurun  waktu 300 tahun beliau datang kembali namun tujuan beliau bukan ke Lombok melainkan ke Sumbawa. Setelah selesai perjalanan beliau di Sumbawa beliau kembali ke Bali hingga beliau moksah di tanah Bali, beliau moksa  di lokasi Pura Ulu Watu. Pura Rambut Siwi, Pura Tengkulep, Puraju, Tanah Lot adalah beberapa tempat yang sempat beliau kunjungi sebelum akhirnya beliau Moksah.
Batu Peluk yang berada di utamaning mandala dipercayai sebagai batu ajaib yang dapat meramal bagaimana jodoh atau nasib yang kita alami. Setelah kita memeluk Batu tersebut, apabila jarak antara kedua jari berjauhan maka rejeki yang diperoleh akan susah didapat, tetapi semakin dekat jarak antar kedua jari maka rejeki yang diterima akan lancar. Meski ukuran postur tubuh sama atau berbeda tapi tetap saja jarak jari setelah memeluk batu tersebut tidak sama, Pura Gunung Baleku patut dikunjungi untuk melakukan persembahyangan bagi umat Hindu.




Posting Komentar

0 Komentar