Pura Mayura
Nama Mayura diambil dari bahasa Sansekerta yang berarti “burung merak”. Pada waktu itu, masih terdapat banyak ular yang berkeliaran sehingga sangat meresahkan masyarakat yang hendak berdoa di pura. Beberapa penasehat kemudian menyarankan agar beternak burung merak, dan memeliharanya di sekitar taman dan pura. Keberadaan burung merak cukup membantu dalam mengusir ular-ular tersebut. Sehingga masyarakat dapat berdoa dengan tenang. Sejak saat itu, nama “Mayura” mulai dipakai dan dikenal. Kini yang tersisa hanyalah relief-relief burung Merak yang semakin menyakinkan bahwa legenda tentang ular dan burung Merak memang ada.
Ketika menginjak Kawasan dengan luas 244, 60 meter x 138,50 meter ini, Anda akan merasakan kombinasi suasana yang unik. Antara suasana alam yang asri, suasana religius, dan sekaligus bersejarah. Wilayah taman ini terdiri dari dua bagian, yaitu area taman dan area pura.Di area taman, Anda akan mendapati taman yang tertata rapi. Disini Anda akan merasakan kedamaian yang alami. Di sekeliling taman dipagari oleh pohon-pohon Manggis, dengan rumput hijaunya yang subur terawat. Di taman ini Anda juga akan menemui sebuah kolam yang ditengahnya berdiri sebuah bangunan. Bangunan tersebut bernama “Rat Kerte”, sering disebut sebagai “Gili” (dalam bahasa Sasak berarti “pulau kecil”). Rat Kerte atau Gili tersebut dulunya sering dipakai sebagai tempat untuk berkumpul, melakukan pertemuan atau rapat, serta untuk menerima tamu kerajaan.
Menginjak ke komplek pura, Anda bisa menemui empat pura utama. Seperti Pura Gunung Rinjani, Pura Ngelurah, Pura Padmasana, dan Pura Gedong. Pura Gedong sering digunakan untuk peribadatan umat Hindu, bahkan dari berbagai penjuru dunia. Karena hal tersebut, Pura Gedong juga memiliki nama lain, yaitu Pura Jagad Rana. Di area pura ini, suasana religius sangat terasa.
Komplek pura ini tidak hanya dikunjungi oleh umat Hindu saja. Siapapun boleh masuk ke area pura untuk melihat-lihat serta mengetahui sejarahnya. Hanya pada waktu-waktu tertentu saja, area pura ditutup untuk umum. Seperti pada perayaan Galungan, perayaan Kuningan, serta hari raya umat Hindu lainnya. Jika Anda ingin mengetahui lebih banyak tentang kompleks pura serta Taman Mayura ini, Anda bisa menanyakannya pada pemangku di Bale Pawedan. Jika mengunjunginya, Anda harus menggunakan selendang kecil panjang berwarna merah. Setiap pengunjung harus mengikatkan selendang ini di pinggang. Cara mengikatkannya pun tidak boleh sembarangan. Bagi yang telah menikah maka simpul selendang harus terletak di sebelah kiri. Jika sudah mempunyai kekasih, simpul berada di sebelah kanan. Sedangkan bagi yang masih sendiri alias single simpul selendang berada di tengah-tengah. Bagi para pengunjung dikenakan tariff Rp.10.000,- per orang.



0 Komentar