Pura Medana, Tanjung Lombok Utara

Pura Medana
 
 
Pemugaran Pura Medana  berada di Jl. Raya Medana Tanjung Tanjung, Nusa Tenggara Barat, Indonesia. Sedikit pembahasan mengenai keberadaan makam seorang Bangsawan Sasak dalam kawasan areal Pura Medana, adalah dikisahkan sebuah legenda seorang penguasa kaya raya Suku Sasak bernama Papuk Buling Dana yang berasal dari Tanjung - Lombok Utara. Papuk Buling Dana tersohor atas kekuasaan, berbagai macam harta benda, dan kedermawanan hatinya. Melengkapi kemuliaan yang tak ada habisnya, Papuk Buling Dana pun dianugerahkan pula seorang puteri yang saleh dan cantik jelita. Berbagai macam rupa harta benda yang telah dimilikinya, tetap menjadikan Papuk Buling Dana memiliki sifat seorang raja yang sangat baik dan murah hati. Kemurahhatian Papuk Buling Dana tersebut tersohor sebagai seseorang yang ‘tidak pernah menolak’ apapun yang diminta rakyatnya darinya, karena kemurahhatian tersebutlah maka beliau bernama Papuk Buling Dana.


Dikisahkan selanjutnya, karena kemurahhatian rajanya itu juga, ironis malah membangkitkan sifat serakah dan jahil rakyatnya sendiri. Segala harta benda milik sang raja yang diminta rakyat-rakyatnya tidak pernah satu kalipun ditolak dan selalu diberikan secara tulus oleh Papuk Buling Dana. Karena segala macam jenis harta benda milik sang raja dermawan tersebut sudah pernah diminta oleh rakyatnya, maka suatu hari didorong niat jahat serta sifat serakah dan jahil itu, rakyat-rakyat sang raja berkomplot membuat sebuah rencana jahat yang bertujuan untuk ‘mencobai’ sifat murah hati rajanya sendiri, yaitu meminta harta paling berharga sang raja yaitu putri tunggalnya yang cantik jelita . Saat waktu telah sepakat mereka tetapkan, para rakyat datang menghadap sang raja untuk menyampaikan keinginan mereka ‘meminta’ putri tunggal kesayangan sang raja. Walaupun sang raja merasa terpukul mendengar permintaan rakyatnya yang dianggapnya keterlaluan, namun Papuk Buling Dana tetap mengabulkan juga apapun yang diminta rakyatnya termasuk memberikan putri tunggalnya tersebut. Setelah berhasil mendapatkan sang putri raja dengan sangat mudahnya, ternyata membuat hati para komplotan rakyat jahat ini bertambah kotor dan jahat saja. Awalnya niat jahil mereka itu kini telah ‘menjelma’ menjadi pikiran kejam dan bengis, mereka berunding kembali menyusun rencana untuk ‘mencobai’ bagaimana ‘reaksi’ selanjutnya dari sang raja dermawan tersebut apabila sang putri raja dikembalikan lagi kepada Papuk Buling Dana dengan dibunuh terlebih dahulu secara sadis.
Lalu setelah melaksanakan pembunuhan kejinya itu terhadap sang putri, datanglah kembali komplotan rakyat-rakyat jahat tersebut menghadap sang raja. Mereka kemudian menyerahkan kembali sang putri raja yang sudah tak bernyawa dalam bentuk tubuh yang sudah terpotong-potongan kepada Papuk Buling Dana. Seolah tidak cukup sampai disitu ‘niat jahil mencobai’ rajanya sendiri, komplotan rakyat jahat ini bahkan tanpa memiliki rasa peri kemanusiaan lagi meminta sang raja untuk memakan daging dari tubuh putri kesayangannya yang sudah mereka potong-potong.
 
Makam Putri Papuk Buling Dana


Sungguh tak syak dinyana oleh Papuk Buling Dana, rakyat yang sangat dicintainya sepenuh hati itu sampai hati melakukan perbuatan keji yang tanpa batas kepadanya. Meminta memakan sendiri bangkai potongan daging putrinya itu tentu saja sudah dianggap penghinaan yang tak ada ampunannya oleh sang raja. Kesabaran Papuk Buling Dana yang sudah sampai puncaknya meladeni permintaan-permintaan rakyatnya itu, kini berganti keangkaramurkaanlah yang menyelimuti kedermawanan hatinya.
 
Akhirnya Papuk Buling Dana mengutuk seluruh rakyatnya yang serakah dan bengis itu. Papuk Buling Dana mengutuk rakyatnya itu hingga sampai 7 turunan, bahwa rakyatnya akan selalu mengalami penderitaan hidup di dunia yang tak ada habis-habisnya. Kutukan Papuk Buling Dana atas sifat serakah rakyatnya itu adalah rakyatnya akan selalu menemukan penderitaan dan kesengsaraan hidup, wabah penyakit, kelaparan, dan apabila rakyatnya mendapatkan panen maka akan kekurangan air, apabila mendapatkan air maka rakyatnya itu kekurangan makanan. Sedangkan kutukan Papuk Buling Dana atas perbuatan rakyatnya membunuh dan memotong-motong putri salehnya, adalah rakyatnya itu dan 7 keturunannya akan mengalami cacat-cacat tubuh, buta, tuli, bisu, atau lumpuh.
Setelah mengutuk kelaliman rakyatnya yang serakah, kemudian Papuk Buling Dana mengutuk juga seluruh harta kekayaannya yang berlimpah ruah yang dirasakannya telah menjadi sebab musabab timbulnya sifat nafsu serakah tersebut menjadi batu. Tak satu harta benda apapun miliknya yang tertinggal dikutuknya menjadi batu; emas permata, logam-logam dan batu-batu mulia, pasukan gajahnya, hingga ‘pesawat-pesawat’ miliknya di jaman itu. Itulah kenapa dipercaya segala jenis bebatuan yang bertebaran di kawasan areal pura di larang dibawa keluar pura, barang siapa yang telah mengambil bebatuan di kawasan areal pura tersebut akan mendapat sakit karena batu-batu yang bertebaran di  kawasan areal pura dipercaya adalah perwujudan dari batu-batu permata milik Papuk Buling Dana yang telah beliau kutuk.
 
Selanjutnya setelah Papuk Buling Dana menyebarkan kutukannya, beliau langsung mengalami moksa (fenomena tingkat kesucian diri hingga diakhir kehidupan memiliki kemampuan membebaskan jiwa dan raga menuju alam surga keabadian tanpa mengalami kematian lahiriah dalam konsep Hindu dan Budha). Sedangkan makam yang ada sekarang hanyalah sebuah simbol yang dipercaya sebagai situs peringatan jejak tempat dimana Papuk Buling Dana mengalami moksa.

Posting Komentar

0 Komentar